Aku sedang membaca salah satu bab dalam sebuah buku pengembangan diri. Alih-alih secara singkat, Ia mendeskripsikan cinta dalam 2 paragraf panjang berisi adegan-adegan manis bersama pacarnya. Ah.. jadi seperti itukah rasanya bertemu dengan orang yang tepat? Bahkan hal-hal sepele terlihat menyenangkan ketika dikerjakan bersama belahan jiwa. Ketika didera kesedihan, ada yang menemani, bahkan tanpa kata-kata hanya kehadirannya yang menawarkan bahu sudah cukup mengobati. Hubungan dewasa yang terlihat sangat menenangkan. Aku tahu ia berhak menulis apa yang ingin ia tulis tapi entah mengapa aku jadi ingin mencelanya karena memperlihatkan sisi tidak realistis dalam buku yang seharusnya realistis. Lalu aku meneteskan air mata. Tak sadar, begitu saja, aku menangis. Kadang-kadang aku merasa damai setelah menangis tiba-tiba seperti ini, tapi di lain waktu rasanya aku bagaikan seonggok cangkang kosong. Tidak lagi terasa aneh, aku memaklumi itu semua. Fluktuasi, dinamika, kompleksisitas emosi yang ...
that typical melancholic weirdo you often see spending her time alone at the corner of a cozy cafe, with a glass of ice latte and books or laptop on table.