Aku sedang membaca salah satu bab dalam sebuah buku pengembangan diri. Alih-alih secara singkat, Ia mendeskripsikan cinta dalam 2 paragraf panjang berisi adegan-adegan manis bersama pacarnya. Ah.. jadi seperti itukah rasanya bertemu dengan orang yang tepat? Bahkan hal-hal sepele terlihat menyenangkan ketika dikerjakan bersama belahan jiwa. Ketika didera kesedihan, ada yang menemani, bahkan tanpa kata-kata hanya kehadirannya yang menawarkan bahu sudah cukup mengobati. Hubungan dewasa yang terlihat sangat menenangkan. Aku tahu ia berhak menulis apa yang ingin ia tulis tapi entah mengapa aku jadi ingin mencelanya karena memperlihatkan sisi tidak realistis dalam buku yang seharusnya realistis.
Lalu aku meneteskan air mata. Tak sadar, begitu saja, aku menangis. Kadang-kadang aku merasa damai setelah menangis tiba-tiba seperti ini, tapi di lain waktu rasanya aku bagaikan seonggok cangkang kosong. Tidak lagi terasa aneh, aku memaklumi itu semua. Fluktuasi, dinamika, kompleksisitas emosi yang bergejolak dalam diriku. Belakangan aku sadar, memang butuh merasa seperti itu di waktu-waktu tertentu. Tidak apa-apa.
Aku tidak sedih, tidak juga terharu.
Aku kesepian. Mungkin aku kesepian.
Adegan manis yang kubaca berubah hambar.
Aku tahu, aku kesepian. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Aku tidak ingin membuka hati. Aku tidak siap.
Aku tahu aku kesepian. Tapi aku merasa cukup.
Hanya dengan diriku sendiri.
Kadang-kadang, aku yang seperti inipun terasa cukup. Mungkin lebih dari cukup.
-num
Comments
Post a Comment