-a day after semhas- Sebanyak ini orang yang menyemangatiku. Bahkan dukungan tulus datang dari orang yang tidak kusangka-sangka. Selama ini perasaan dan logika bergolak, antara memilih netral atau memihak salah satu. Ya, aku memang terluka batin, sangat dalam. Selama ini aku berkeras untuk menutup mata dan telinga. Tapi hari itu, kata-kata yang selama ini tanpa sadar ingin kudengar, keluar dari mulut seorang yang tak terduga. Bagaimana mungkin ia bisa memberi solusi sebijak itu padahal detail ceritanya pun ia tak tahu? Semua kalimatnya hari itu terasa hangat. Ia memberi nasihat, tapi tidak terkesan menggurui. Aku seperti sedang dipeluk. Ia tak ingin aku merasa sendirian berjuang, ia akan selalu mendukungku, katanya. Dan aku yang rapuh ini sudah rindu setengah mati mendengar kata-kata sehangat itu. Apalagi yang bisa kulakukan kalau bukan menangis? Bahkan untuk berkata-kata saja aku tak mampu. Semua pertahananku luruh dalam 1 jam pertemuan dengannya. Bagaimana mungkin ia bisa menar...
that typical melancholic weirdo you often see spending her time alone at the corner of a cozy cafe, with a glass of ice latte and books or laptop on table.