-a day after semhas-
Sebanyak ini orang yang menyemangatiku.
Bahkan dukungan tulus datang dari orang yang tidak kusangka-sangka. Selama ini perasaan dan logika bergolak, antara memilih netral atau memihak salah satu. Ya, aku memang terluka batin, sangat dalam. Selama ini aku berkeras untuk menutup mata dan telinga. Tapi hari itu, kata-kata yang selama ini tanpa sadar ingin kudengar, keluar dari mulut seorang yang tak terduga.
Bagaimana mungkin ia bisa memberi solusi sebijak itu padahal detail ceritanya pun ia tak tahu?
Semua kalimatnya hari itu terasa hangat. Ia memberi nasihat, tapi tidak terkesan menggurui. Aku seperti sedang dipeluk.
Ia tak ingin aku merasa sendirian berjuang, ia akan selalu mendukungku, katanya.
Dan aku yang rapuh ini sudah rindu setengah mati mendengar kata-kata sehangat itu. Apalagi yang bisa kulakukan kalau bukan menangis? Bahkan untuk berkata-kata saja aku tak mampu. Semua pertahananku luruh dalam 1 jam pertemuan dengannya.
Bagaimana mungkin ia bisa menaruh perhatian pada satu kalimat di tulisanku yang banyak orang mengabaikan?
Memang berat, pasti berat, katanya. Tapi ia percaya aku bisa melewati ini.
Selama ini semua orang selalu menyuruhku untuk membuka pintu maaf, bahkan buku favoritku punya sederet kata-kata persuasi untuk membuatku ikhlas pada takdir buruk yang menimpa. Aku membantah. Semuanya kubantah. Kubilang aku takkan memaafkan sampai hatiku siap untuk memaafkan.
Lalu kami bertemu hari itu dan awan hitam yang menghantuiku seperti perlahan tersibak.
Ikhlaskan, katanya.
Aku yang biasanya membantah entah bagaimana meresapi kata-katanya hingga menangis.
Aku tidak tahu akan menangis ketika bertemu dengannya. Itu pertemuan yang anehnya terasa seperti keajaiban. Seperti semesta mengarahkan orang baik padamu disaat-saat terkelam hidupmu.
Itu percakapan yang sangat berharga. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengucapkan terimakasih padanya.
Aku tidak akan melupakan ketulusanmu, bu.
-num.
Comments
Post a Comment