Skip to main content

Rest(art)ing

Sudah berapa banyak langkah yang kau ambil hanya untuk berjalan kepada dirimu sendiri?
Karena nyatanya, untuk bertemu dengan dirimu sendiri tanpa ada topeng menghalangi merupakan kesempatan langka.

Malam panjang tak berbintang, penuh tangis, tanpa tawa kini perlahan berlalu.

Hati yang lelah,
Mata berteriak ingin dipejam,
Kaki kian muak tuk melangkah,
Lisan yang menolak bertutur kata.
Beristirahatlah.
Beristirahatlah.
Beristirahatlah.

Peluh kau hapuskan, luka tersembuhkanlah.

Sejenak ratapi, resapi semua pencapaian hingga detik ini.
Sejenak hilangkan dulu penatmu.
Sejenak rebahkan pundak kecilmu, sudah terlalu lama ia memikul beban seorang diri, sudah terlalu sering ia terisak dikala banyak insan terlelap.

Angin berhembus, ia titip salam
"Selamat tidur, besok kita coba lagi ya?"

Bulan dan bintang tersenyum malam ini, seakan tahu esok kan datang hal baik.

Mama berpesan, suatu hari nanti ini semua akan menjadi memori yang bisa kita kenang dengan senyuman.
Suka, sedih, bahagia, sehat, sakit, sengsara dan derita yang terasa begitu mencekik kian hari, di kemudian hari akan menjadi pelajaran berarti.

Jika umurmu panjang, kamu bertemu jodohmu dan beranak pinak, ceritakan ini pada anak cucumu. Agar mereka tahu lika-liku hidup, agar mereka mengerti bahwa apa yang dipertahankan butuh hal lain untuk dikorbankan.

Sudah ya? Sekarang istirahatkan hati dan pikiranmu, cukupkanlah dengan segala yang membuatmu jatuh. Tidak, bukan berarti berhenti atau melarikan diri dari realita, tapi nanti kita coba lagi, setelah patahmu tersembuhkan, dan sayapmu bisa kau lebarkan kembali.

-num 🌻


"a lot happened" she whispered, almost painfully.


Comments

Popular posts from this blog

ground zero.

  And now it’s over between me and the one i called ocean once,  I should’ve known that we’ll never last.  But how would I know? I was in love. 1 year and a half was short, but the love we shared was real at least for some moments. Even though it didn't last long,  Even though the fussin’ and cursin’ never stopped, we were real. There were times we grieved in silence and comforted  each other in the middle of chaos. There were times we held onto each other,  relied on each other and watched everything else fall apart,  and then one day, it just stopped. Only broken promises left,  filling this empty room along with lies that slowly unfold. I know I could never forget the pain in my rage full cry that day  when all my nightmares hunt me down till I realize,  it was never a nightmare.  It's a reality that I live in.  I just hate the fact that you made all my fears come true. Though I wish to never feel such pain again, I am grate...

castaway

And just like that, 2022 ended right when rain comforts you the most and the touch of sun rays feel strange. Sorely, serenely, delightfully. In a blink of an eye, a lot changes. Feelings that once familiar, fade and becoming distant. Some stories end, some into the new beginnings. New books, new hair-cut, new paints, new year. Still, there are things that stay the same no matter how many years have passed. Is it because I’m getting older, suddenly living alone feel quite romantic to me. Pile of dishes, the smell of washed laundry, wet napkins, food that rots faster than ever, purring cats on rainy days, run out spices.. I tend to forget the beauty in small things as life gets harder. I’ve come to realization that being a grown woman, fighting each day to fulfill my dreams is alluring, yet frightening. Living alone means that I make my own rules. And soon, my mother’s scolding is no longer the reason for me to clean up. But when the petal of roses on glass vase begin to fall off, ...

Shiwai Nana

  30.07.2023 SOQ ->DJJ, 8121 mdpl Aku pergi. Tiba saatnya aku meninggalkan tempat ini lagi. Kota yang akan selalu jadi istimewa di sudut hati terdalam. Walau kali ini aku tak sampai ke Womom, kampung kesayanganku, tapi rindu dan haus akan asinnya pantai Tambrauw sedikit terobati ketika kuhirup lagi udara di bukit Malakarta. Dari kejauhan, lautmu terlihat begitu teduh. Apa kau masih ingat hari cerah ketika tubuhku dibasuh hangat ombakmu kala itu? Aku berjelajah ke banyak tempat, menyusuri hutan demi hutan, sungai demi sungai, menikmati waktu bergulir tuk temukan apa arti ruang kehidupan. Berada begitu dekat dengan alam selama berhari-hari membuat jiwaku serasa terbasuh air sejuk. Rantai yang membelenggu sekian tahun, mulai luruh. Hidup memang punya segudang kejutan. Berliuk-liuk seperti Sungai Auk. Aku tahu aku suka berpetualang, namun tak terpikir olehku akan sampai di tempat yang disucikan oleh masyarakat adat.                ...