Skip to main content

Phosphene

 

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menguasai banyak hal, untuk mencapai nilai akademik yang membanggakan, berusaha untuk mencetak prestasi dalam bidang yang kugeluti untuk diriku sendiri, karena itu cita-cita yang harus kugapai, karena 4 tahun yang akan kujalani ini akan membentuk karakter diri dan bagaimana aku bersikap di dunia kerja nanti.

 

Ya, pada awalnya, semua demi diri sendiri juga orang tua. Namun seiring waktu berjalan, hatiku perlahan mulai berubah, aku ingin lebih dari sekedar membuat bangga diri sendiri dan oranguta. Hati ini meninggi mendengar pujian yang dilontarkan dari orang sekitar.. Ambisiku melonjak, mulai tak bisa aku tolerir berbagai kegagalan walau hanya hal sepeleh. Kian serakah diri ini sebab haus pengakuan dari orang lain.

 

Aku lupa cara berterimakasih pada Tuhan atas segala nikmat yang tak terkira, pada diri sendiri yang telah berjuang siang malam demi secarik kertas yang sungguh tak akan kubawa pulang ke akhirat.

 

Tersesat dalam ambisi yang kian melambung. Kepayahan menerima realita kehidupan yang berbanding terbalik dengan ekspektasi.

 

Ego ini banyak salahnya, ya aku paham. Tapi tetap ku berpura-pura buta dan tuli, seakan semua kata hati hanya angin lalu. Seakan hidup bakal berakhir bila sedikit saja kuturunkan egoku.

 

Hari berlalu, tahun berganti.

 

Aku masih saja sibuk dengan urusan hati dan pikiran yang kian bergulat dikala harus mengambil keputusan, antara terus melalui jalan dengan tingginya ego untuk mendapat pengakuan dari semua pihak.. Atau melepas ambisiku untuk segala pembuktian akan pencapaianku demi ketenangan hati dan pikiranku.

 

Mengapa sebegitu sulitnya menerima kekalahan?

Mengapa sebegitu sulitnya memaafkan kesalahan?

 

Apa hidup hanya sebatas mendapat pengakuan?

Apa tidak lelah bergelut dengan diri sendiri hanya karena ingin membuktikan segala hal pada dunia?

 

Lalu, kapan hatimu akan mendapatkan ketenangannya? bila terus dibutakan dengan standar yang tak realistis yang kau ciptakan sendiri. Menyiksa diri sendiri dengan segala pemikiran konyol yang membabibuta tentang menyenangkan semua orang.

 

Aku malu pada diriku sendiri.

 

Mengapa musti berusaha keras membuat orang lain menyukai pencapaianku?

Padahal akupun sering lupa mencintai dan berterimakasih pada diri sendiri.

Padahal akupun tak pernah absen mengkritik diri sendiri.

 

Lagi, aku malu pada diriku sendiri.

 

Lalu tersadar, tak bisa menyenangkan semua orang, tak semua yang tersenyum padaku berarti mendukung, tak semua yang menatap sinis padaku berarti menjatuhkan.

 

Sifat manusia memang serakah, selalu meminta lebih dan lupa dengan nikmat yang telah diberi. Selalu ingin mendengar hal-hal baik dari mulut orang lain, padahal nyatanya memang banyak hal tidak mengenakkan yang perlu kita terima dengan lapang dada. Membuat standar-standar tak wajar untuk diri sendiri, lalu jatuh sakit hingga sulit bangkit kembali ketika realita tak memenuhi segala ekspektasi.

 

Hidup tak selalu mulus, hari ini sehat, besok bisa jatuh sakit. Hidup selalu berputar, yang dahulu selalu berjaya, hari ini bisa tertatih-tatih demi sesuap nasi.

 

Petuah mama; bersyukurlah, jika tidak, seumur hidupmu akan terus merasa kurang.



"and you too, will finally find a place to rest your heavy shoulder."

-num

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

ground zero.

  And now it’s over between me and the one i called ocean once,  I should’ve known that we’ll never last.  But how would I know? I was in love. 1 year and a half was short, but the love we shared was real at least for some moments. Even though it didn't last long,  Even though the fussin’ and cursin’ never stopped, we were real. There were times we grieved in silence and comforted  each other in the middle of chaos. There were times we held onto each other,  relied on each other and watched everything else fall apart,  and then one day, it just stopped. Only broken promises left,  filling this empty room along with lies that slowly unfold. I know I could never forget the pain in my rage full cry that day  when all my nightmares hunt me down till I realize,  it was never a nightmare.  It's a reality that I live in.  I just hate the fact that you made all my fears come true. Though I wish to never feel such pain again, I am grate...

castaway

And just like that, 2022 ended right when rain comforts you the most and the touch of sun rays feel strange. Sorely, serenely, delightfully. In a blink of an eye, a lot changes. Feelings that once familiar, fade and becoming distant. Some stories end, some into the new beginnings. New books, new hair-cut, new paints, new year. Still, there are things that stay the same no matter how many years have passed. Is it because I’m getting older, suddenly living alone feel quite romantic to me. Pile of dishes, the smell of washed laundry, wet napkins, food that rots faster than ever, purring cats on rainy days, run out spices.. I tend to forget the beauty in small things as life gets harder. I’ve come to realization that being a grown woman, fighting each day to fulfill my dreams is alluring, yet frightening. Living alone means that I make my own rules. And soon, my mother’s scolding is no longer the reason for me to clean up. But when the petal of roses on glass vase begin to fall off, ...

Shiwai Nana

  30.07.2023 SOQ ->DJJ, 8121 mdpl Aku pergi. Tiba saatnya aku meninggalkan tempat ini lagi. Kota yang akan selalu jadi istimewa di sudut hati terdalam. Walau kali ini aku tak sampai ke Womom, kampung kesayanganku, tapi rindu dan haus akan asinnya pantai Tambrauw sedikit terobati ketika kuhirup lagi udara di bukit Malakarta. Dari kejauhan, lautmu terlihat begitu teduh. Apa kau masih ingat hari cerah ketika tubuhku dibasuh hangat ombakmu kala itu? Aku berjelajah ke banyak tempat, menyusuri hutan demi hutan, sungai demi sungai, menikmati waktu bergulir tuk temukan apa arti ruang kehidupan. Berada begitu dekat dengan alam selama berhari-hari membuat jiwaku serasa terbasuh air sejuk. Rantai yang membelenggu sekian tahun, mulai luruh. Hidup memang punya segudang kejutan. Berliuk-liuk seperti Sungai Auk. Aku tahu aku suka berpetualang, namun tak terpikir olehku akan sampai di tempat yang disucikan oleh masyarakat adat.                ...