Aku berusaha sekuat tenaga untuk menguasai banyak hal, untuk mencapai nilai akademik yang membanggakan, berusaha untuk mencetak prestasi dalam bidang yang kugeluti untuk diriku sendiri, karena itu cita-cita yang harus kugapai, karena 4 tahun yang akan kujalani ini akan membentuk karakter diri dan bagaimana aku bersikap di dunia kerja nanti.
Ya, pada awalnya, semua demi diri sendiri juga orang tua. Namun seiring waktu berjalan, hatiku perlahan mulai berubah, aku ingin lebih dari sekedar membuat bangga diri sendiri dan oranguta. Hati ini meninggi mendengar pujian yang dilontarkan dari orang sekitar.. Ambisiku melonjak, mulai tak bisa aku tolerir berbagai kegagalan walau hanya hal sepeleh. Kian serakah diri ini sebab haus pengakuan dari orang lain.
Aku lupa cara berterimakasih pada Tuhan atas segala nikmat yang tak terkira, pada diri sendiri yang telah berjuang siang malam demi secarik kertas yang sungguh tak akan kubawa pulang ke akhirat.
Tersesat dalam ambisi yang kian melambung. Kepayahan menerima realita kehidupan yang berbanding terbalik dengan ekspektasi.
Ego ini banyak salahnya, ya aku paham. Tapi tetap ku berpura-pura buta dan tuli, seakan semua kata hati hanya angin lalu. Seakan hidup bakal berakhir bila sedikit saja kuturunkan egoku.
Hari berlalu, tahun berganti.
Aku masih saja sibuk dengan urusan hati dan pikiran yang kian bergulat dikala harus mengambil keputusan, antara terus melalui jalan dengan tingginya ego untuk mendapat pengakuan dari semua pihak.. Atau melepas ambisiku untuk segala pembuktian akan pencapaianku demi ketenangan hati dan pikiranku.
Mengapa sebegitu sulitnya menerima kekalahan?
Mengapa sebegitu sulitnya memaafkan kesalahan?
Apa hidup hanya sebatas mendapat pengakuan?
Apa tidak lelah bergelut dengan diri sendiri hanya karena ingin membuktikan segala hal pada dunia?
Lalu, kapan hatimu akan mendapatkan ketenangannya? bila terus dibutakan dengan standar yang tak realistis yang kau ciptakan sendiri. Menyiksa diri sendiri dengan segala pemikiran konyol yang membabibuta tentang menyenangkan semua orang.
Aku malu pada diriku sendiri.
Mengapa musti berusaha keras membuat orang lain menyukai pencapaianku?
Padahal akupun sering lupa mencintai dan berterimakasih pada diri sendiri.
Padahal akupun tak pernah absen mengkritik diri sendiri.
Lagi, aku malu pada diriku sendiri.
Lalu tersadar, tak bisa menyenangkan semua orang, tak semua yang tersenyum padaku berarti mendukung, tak semua yang menatap sinis padaku berarti menjatuhkan.
Sifat manusia memang serakah, selalu meminta lebih dan lupa dengan nikmat yang telah diberi. Selalu ingin mendengar hal-hal baik dari mulut orang lain, padahal nyatanya memang banyak hal tidak mengenakkan yang perlu kita terima dengan lapang dada. Membuat standar-standar tak wajar untuk diri sendiri, lalu jatuh sakit hingga sulit bangkit kembali ketika realita tak memenuhi segala ekspektasi.
Hidup tak selalu mulus, hari ini sehat, besok bisa jatuh sakit. Hidup selalu berputar, yang dahulu selalu berjaya, hari ini bisa tertatih-tatih demi sesuap nasi.
Petuah mama; bersyukurlah, jika tidak, seumur hidupmu akan terus merasa kurang.
-num

π’π’π’
ReplyDeleteπͺπΎπ»π»
Delete