Ayappo, Sentani.
Tak seperti malam saat kami tiba, juga sepanjang hari ini yang terus diiringi hujan deras, sore ini walau langit masih berawan, cuacanya mulai teduh. Aku lebih suka hujan. Menurutku aku lebih cocok dengan cuaca mendung dan hujan. Mungkin karena kepribadianku yang melankolis. Walau begitu, kami butuh cuaca cerah untuk mendapatkan hasil praktikum yang maksimal.
Tubuhku yang masih dalam balutan pakaian basah kuyup, kedinginan dengan udara menjelang malam ditempat ini.
Disini syahdu. Jauh dari perkotaan, minim polusi udara. Airnya teduh, walau tak ada suara ombak, aku tetap suka.
Tak ada senja sore ini. Namun birunya langit mengobati rasa dinginku yang kian menjadi-jadi. Aku seperti tersihir dengan pemandangan ini. Langit hampir mendekati warna prussian blue, yang membuatku, tentu saja takjub.
Hari makin gelap, pijaran lampu memantulkan cahaya diatas air mengingatkanku pada lukisan minyak oleh artis ternama dari 1 abad lalu. Mayfly mulai beterbangan, mengerubungi sumber-sumber cahaya. Beberapa anak terbatuk karena tak sengaja menelan serangga kecil tersebut ketika sedang berbicara.
Lucunya, aku yang sedari tadi diam tak berbicara, juga ikut menjadi korban. Entah bagaimana mayfly bisa masuk kedalam hidungku, membuatku harus mendengus beberapa kali hingga serangga itu benar-benar keluar. Aku tidak pandai melucu, tapi kurasa ini cukup lucu, jadi kalau kamu tertawa membaca ini, mungkin kamu memang sereceh aku.
Ah, benar. Jari kelingkingku terjepit water sampler saat praktikum siang tadi, hingga gumpalan darah mengumpul di area basal kuku ku, dan kini mulai menyebar hampir memenuhi setengah kuku.
Kejadiannya cepat sekali, aku bahkan tidak ingat bagaimana sampai bisa terjepit. Udara yang menusuk malam ini membuat sakitnya makin menjadi. Minyak yang kugosokkan berkali-kali seperti tak berdampak. Tak ada luka terbuka, tapi itu justru membuat sakitnya terasa dua kali lipat.
Bahkan mendengar suara tutupan water sampler dibuka, serasa kejadian yang sama terulang lagi pada jariku. Yang jarinya pernah kejepit pintu yang dibanting dengan keras pasti paham rasa sakitnya. Traumatis sekali. Itu sebabnya aku menghindari sebisa mungkin berinteraksi dengan alat itu, dan lebih memilih untuk melakukan pekerjaan lain seperti melabeli bottle sampler, menghitung pH, suhu dan titrasi oksigen terlarut. Apapun itu selain sampling air dengan water sampler. Aku masih ngeri.
Ini hari terakhir kami disini. Walau singkat, namun rasanya terlampau baanyak hal berkesan yang terjadi di tempat ini. Aku tahu aku pasti bakal kangen berada disini. Dengan orang-orang yang sama, senyuman, tawa, cemberut.. dan invasi mayfly di malam hari yang tak ada habisnya.
Kuharap.. suatu hari nanti, ketika keadaan menjadi lebih baik, aku bisa menginjakkan kaki di tempat ini lagi.
Juga..
Aku harap, semua.. semuanya, bisa menemukan kebahagiaan tanpa harus menjatuhkan orang lain. Aku harap.. segala pertanyaan yang menghantui pada malam-malam panjang, sesegara mungkin menemukan titik terangnya.

Kerennnn❤️❤️
ReplyDeleteAww gomawo eonni๐๐
Delete