Skip to main content

17.47 WIT

Ayappo, Sentani.

Tak seperti malam saat kami tiba, juga sepanjang hari ini yang terus diiringi hujan deras, sore ini walau langit masih berawan, cuacanya mulai teduh. Aku lebih suka hujan. Menurutku aku lebih cocok dengan cuaca mendung dan hujan. Mungkin karena kepribadianku yang melankolis. Walau begitu, kami butuh cuaca cerah untuk mendapatkan hasil praktikum yang maksimal.

 

Tubuhku yang masih dalam balutan pakaian basah kuyup, kedinginan dengan udara menjelang malam ditempat ini.

 

Disini syahdu. Jauh dari perkotaan, minim polusi udara. Airnya teduh, walau tak ada suara ombak, aku tetap suka.

 

Tak ada senja sore ini. Namun birunya langit mengobati rasa dinginku yang kian menjadi-jadi. Aku seperti tersihir dengan pemandangan ini. Langit hampir mendekati warna prussian blue, yang membuatku, tentu saja takjub.

 

Hari makin gelap, pijaran lampu memantulkan cahaya diatas air mengingatkanku pada lukisan minyak oleh artis ternama dari 1 abad lalu. Mayfly mulai beterbangan, mengerubungi sumber-sumber cahaya. Beberapa anak terbatuk karena tak sengaja menelan serangga kecil tersebut ketika sedang berbicara.

Lucunya, aku yang sedari tadi diam tak berbicara, juga ikut menjadi korban. Entah bagaimana mayfly bisa masuk kedalam hidungku, membuatku harus mendengus beberapa kali hingga serangga itu benar-benar keluar. Aku tidak pandai melucu, tapi kurasa ini cukup lucu, jadi kalau kamu tertawa membaca ini, mungkin kamu memang sereceh aku.

 

Ah, benar. Jari kelingkingku terjepit water sampler saat praktikum siang tadi, hingga gumpalan darah mengumpul di area basal kuku ku, dan kini mulai menyebar hampir memenuhi setengah kuku.

Kejadiannya cepat sekali, aku bahkan tidak ingat bagaimana sampai bisa terjepit. Udara yang menusuk malam ini membuat sakitnya makin menjadi. Minyak yang kugosokkan berkali-kali seperti tak berdampak. Tak ada luka terbuka, tapi itu justru membuat sakitnya terasa dua kali lipat.

 

Bahkan mendengar suara tutupan water sampler dibuka, serasa kejadian yang sama terulang lagi pada jariku. Yang jarinya pernah kejepit pintu yang dibanting dengan keras pasti paham rasa sakitnya. Traumatis sekali. Itu sebabnya aku menghindari sebisa mungkin berinteraksi dengan alat itu, dan lebih memilih untuk melakukan pekerjaan lain seperti melabeli bottle sampler, menghitung pH, suhu dan titrasi oksigen terlarut. Apapun itu selain sampling air dengan water sampler. Aku masih ngeri.

 

Ini hari terakhir kami disini. Walau singkat, namun rasanya terlampau baanyak hal berkesan yang terjadi di tempat ini. Aku tahu aku pasti bakal kangen berada disini. Dengan orang-orang yang sama, senyuman, tawa, cemberut.. dan invasi mayfly di malam hari yang tak ada habisnya. 


Kuharap.. suatu hari nanti, ketika keadaan menjadi lebih baik, aku bisa menginjakkan kaki di tempat ini lagi.

 

Juga..

Aku harap, semua.. semuanya, bisa menemukan kebahagiaan tanpa harus menjatuhkan orang lain. Aku harap.. segala pertanyaan yang menghantui pada malam-malam panjang, sesegara mungkin menemukan titik terangnya.



"There it goes again. My heart feels strange."


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

ground zero.

  And now it’s over between me and the one i called ocean once,  I should’ve known that we’ll never last.  But how would I know? I was in love. 1 year and a half was short, but the love we shared was real at least for some moments. Even though it didn't last long,  Even though the fussin’ and cursin’ never stopped, we were real. There were times we grieved in silence and comforted  each other in the middle of chaos. There were times we held onto each other,  relied on each other and watched everything else fall apart,  and then one day, it just stopped. Only broken promises left,  filling this empty room along with lies that slowly unfold. I know I could never forget the pain in my rage full cry that day  when all my nightmares hunt me down till I realize,  it was never a nightmare.  It's a reality that I live in.  I just hate the fact that you made all my fears come true. Though I wish to never feel such pain again, I am grate...

castaway

And just like that, 2022 ended right when rain comforts you the most and the touch of sun rays feel strange. Sorely, serenely, delightfully. In a blink of an eye, a lot changes. Feelings that once familiar, fade and becoming distant. Some stories end, some into the new beginnings. New books, new hair-cut, new paints, new year. Still, there are things that stay the same no matter how many years have passed. Is it because I’m getting older, suddenly living alone feel quite romantic to me. Pile of dishes, the smell of washed laundry, wet napkins, food that rots faster than ever, purring cats on rainy days, run out spices.. I tend to forget the beauty in small things as life gets harder. I’ve come to realization that being a grown woman, fighting each day to fulfill my dreams is alluring, yet frightening. Living alone means that I make my own rules. And soon, my mother’s scolding is no longer the reason for me to clean up. But when the petal of roses on glass vase begin to fall off, ...

Shiwai Nana

  30.07.2023 SOQ ->DJJ, 8121 mdpl Aku pergi. Tiba saatnya aku meninggalkan tempat ini lagi. Kota yang akan selalu jadi istimewa di sudut hati terdalam. Walau kali ini aku tak sampai ke Womom, kampung kesayanganku, tapi rindu dan haus akan asinnya pantai Tambrauw sedikit terobati ketika kuhirup lagi udara di bukit Malakarta. Dari kejauhan, lautmu terlihat begitu teduh. Apa kau masih ingat hari cerah ketika tubuhku dibasuh hangat ombakmu kala itu? Aku berjelajah ke banyak tempat, menyusuri hutan demi hutan, sungai demi sungai, menikmati waktu bergulir tuk temukan apa arti ruang kehidupan. Berada begitu dekat dengan alam selama berhari-hari membuat jiwaku serasa terbasuh air sejuk. Rantai yang membelenggu sekian tahun, mulai luruh. Hidup memang punya segudang kejutan. Berliuk-liuk seperti Sungai Auk. Aku tahu aku suka berpetualang, namun tak terpikir olehku akan sampai di tempat yang disucikan oleh masyarakat adat.                ...