Sabtu, 22 Januari 2022
Jika aku harus mendefinisikan bagaimana perasaanku hari ini, tentram adalah kata yang tepat.
Aku ke pantai bersama keluargaku. Cuacanya cantik, tidak terlalu mendung tidak terlalu panas. Ombak menyapu kakiku lembut, anak-anak tertawa, aku mengapung dan terbawa arus, nafasku tidak terasa berat.
Sore hari aku bertemu dengan teman-teman komunitas, berdiskusi mengenai event mendatang, bercanda dan berbagi hal-hal sederhana, aku juga tertawa.
Malam harinya, aku berkendara melintasi kota dan melewati tempat-tempatku bernostalgia. Lalu aku mampir ke kafe kesayanganku, memesan segelas Americano dingin, aku membaca buku bagus yang kutemukan seperti serendipity di gramedia. Sebagai penyempurna malamku, kudengarkan playlist dari comfort character-ku. Hatiku terasa hangat.
Awalnya aku tidak yakin bisa berkata hari ini aku bahagia, karena entah mengapa bahagia menjadi sebuah kemewahan bagiku yang pengecut ini. Tapi hari ini banyak perasaan positif. Walau kelihatannya seperti mimpi, tapi aku beneran bahagia hari ini.
Jika kupikir-pikir lagi, diriku 6 tahun yang lalu pasti bakal menertawaiku sambil berkata
“bahagia ya bahagia saja, kenapa musti berputar-putar memikirkan apa itu bahagia segala?”
Kenyataannya sepenggal kalimat itu justru terasa seperti menabur garam diatas luka yang menganga lebar. Terdengar serampangan, tak mempertimbangkan keadaan sesungguhnya lawan bicara. Tapi aku iri pada diriku yang dulu, yang belum melihat kelamnya kehidupan orang dewasa.
Mungkin aku sudah terlalu lama berada di fase bersedih hingga merasa asing ketika bahagia datang menghampiri. Mungkin aku takut terjatuh lagi setelah merasakan bahagia sesaat. Mungkin aku yang terus mencari-cari alasan untuk membenarkan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, masih kesakitan, masih terseok-seok memulihkan diri dari luka batin.
Aku punya banyak kata mungkin untuk mengisi ruang kosong di kepalaku.
Aku pun ingin bahagia. Hanya saja definisi bahagia menjadi semakin kompleks ketika kau beranjak dewasa terutama jika mengalami depresi berkepanjangan. Bisa saja bahagia, ya, namun tidak pernah lepas dari kecemasan bahwa kebahagiaan itu akan segera berakhir. Sekali lagi, aku tahu akan ada orang yang berkata aku terlalu drama, berlebihan, tapi aku tak peduli. Perasaanku nyata, apapun yang orang katakan karena akulah yang menentukan standar kesakitan dan kebahagiaanku. Aku hanya ingin jujur terhadap perasaanku. Setidaknya aku tidak membohongi diri sendiri.
Terlepas dari semua itu, aku merasa tentram. Hari ini indah, aku harus bilang.
Jika diijinkan, aku ingin berharap ini pertanda diriku mulai merangkak keluar dari fase ‘slump’ ini.
Semoga kamu, siapapun kamu, yang juga sedang berada di fase slump, bisa menemukan cahayamu kembali. Mari bertemu lagi di hari-hari yang lebih terang, ketika hatimu menjadi lebih ringan, ketika senyum merekah di wajahmu. Dan aku dengan senang hati akan menjadi saksi bahwa kamu tidak berhenti di saat-saat terpurukmu, bahwa kamu berjuang hingga akhir, dan kamu benar-benar bintang yang bersinar. Janji ya?
-num
You did well my dearest sister, i am so proud of you. Semoga kebahagiaan jadi milikmu ❤️
ReplyDelete