Biar kita runutkan dari awal,
entah sejak kapan aku merasa begitu terikat dengan lautan. Hidupku adalah tentang laut, bahkan ketika aku tak benar-benar memikirkan bahwa lautan adalah bagian penting dalam hidupku, pada satu titik, takdir mengantarkanku pada laut. Magang hingga Judul skripsi, aku tidak pernah menyangka bisa sedekat itu dengan laut.
Aku bukan anak yang lahir besar di pesisir dengan orang tua yang berprofesi dekat dengan laut.
Tapi hatiku tahu, berada di dekat laut, aku nyaman, pulang, laut rumah bagi fisik dan bathinku.
Bukan. Aku bukan seorang perenang handal yang menguasai segala teknik dan gaya renang. Aku hanya paham gerakan dasar, dan tahu beberapa teknik berenang. Lisensi selamku juga baru tingkat paling bawah. Namun aku begitu suka berada di pantai. Berenang atau hanya menatap ke kejauhan, mencari titik temu awan dan laut.
Dari mama dan keluarganya, aku tahu bahwa Opa-Omaku dulunya suka sekali melaut, namun aku tak pernah berkesempatan melihat keduanya menguasai samudera. Dari mama, aku tahu, dalam tubuhku mengalir darah pelaut. Mungkin itu satu dari sekian banyak alasan lautan punya porsi besar dalam hidupku.
Ia tahu rahasia-rahasiaku.
Aku tak berbohong di hadapannya.
Dukaku, jenuhku, bahagiaku,
Selalu ada lautan diantaranya. menjadi pendengar tanpa bicara.
Setiap melewati jalur pantai atau jembatan menyebrangi batas laut, aku tak pernah lupa untuk menurunkan masker, menaikkan kaca helmku. Menghirup asinnya udara, mendengar pesan dari angin samudera pasifik yang berhembus.
Mungkin ini caraku menyapa kawan lamaku, kawan setiaku.
Aku akan datang lagi.
Masih banyak yang ingin kusampaikan padamu.
-num
Comments
Post a Comment