Aku minum kopi malam ini. Aku tahu
itu ide buruk, tapi aku tetap meminumnya. Itu lebih baik dibanding segelas
soju. 3 hari ini banyak sekali hal buruk yang terjadi, kalau kutulis semua bisa
setebal A Little Life. Kepalaku mau pecah rasanya. Dalam sehari 3 hal tragis terjadi. Aku ditabrak mobil dan terkilir di pergelangan kaki, keponakanku jatuh
dari ketinggian dan mematahkan lengannya, saudara sepupuku meninggal di rumah
sakit. Dan ini baru sebagian dari
banyaknya peristiwa yang membuatku kehilangan kata-kata. Aku sudah di titik menjadi
skeptis ketika tidak ada hal buruk yang terjadi.
Aku lelah sekali.
Ya Tuhan.
Aku makan lebih banyak sambal dari biasanya, entah lidahku yang mati rasa, atau
aku hanya ingin melampiaskan kekesalanku dengan makan makanan pedas.
Mimpi buruk datang lagi. Aku tahu mama pasti lelah menghadapiku
yang terus-terusan meraung dalam tidur.
Dari semua waktu, mengapa kesialan harus terjadi di saat-saat
seperti ini?
Tahu apa yang kupikirkan pertama kali setelah ditabrak?
“Aduh, aku mau ngeprint, nanti kalau terlambat nyebar undangan sidang gimana?”
Skripsi sialan. Sialan. Sialan. Sialan.
Bahkan aku tidak bisa menjenguk ponakan atau almarhum sepupuku karena skripsian. Aku mencintai penelitianku dengan sepenuh hati, tapi seluruh proses ini membuatku kehilangan akal sehat.
Aku ingin ke pantai. Aku ingin
berteriak di dalam air sampai paru-paruku meronta. Aku ingin berhenti.
Skripsi bedebah.
Padahal aku berencana menulis hal
yang baik-baik. Mungkin nanti, setelah amarahku reda.
Comments
Post a Comment