Agats, 21 oktober 2022
Dan tiba saatnya aku juga tim akan meninggalkan Asmat. Seminggu lebih berada disini, sedih rasanya mengetahui waktu berpisah sudah dekat.
Aku bertemu banyak orang baru, dengan karakter yang sangat berbeda. Ada orang-orang baik yang terus menemani, membimbing, mengajari hal baik di tempat ini. Kadang terheran-heran, di tengah semua duka batin yang tertoreh, ada segudang peristiwa indah yang dituliskan dalam takdirku. Jika hidupku adalah sebuah film, maka awal 20an ku perlahan beralih dari mellodrama menjadi adventure.
Selama perjalanan pulang dari Kampung Erma Sona kembali ke Agats, untuk beberapa alasan aku menjadi sangat melankolis dan tidak bisa lagi membendung air mata. Ini hanya seminggu, tapi mengapa hatiku begitu terhubung dekat dengan tempat ini? Aku merasa dekat dengan diriku. Ini tempat yang begitu asing, tapi sudut hatiku tergelitik untuk berlama-lama menyusuri kota ini.
Langit yang memerah di sore hari dan aroma kukis sedang dipanggang ketika kami berkendara di depan museum akan menjadi kenangan tak terlupakan. Hal sederhana yang terlalu magis untukku.
Jika dipikir-pikir lagi, satu mimpiku terwujud. Duduk dengan masyarakat di Kampung yang baru pertama kali ku kunjungi, berdiskusi dan berbagi pandangan, tentang alam, tentang perempuan, tentang hidup, tentang duka batin turun temurun yang coba diselesaikan bersama.
Walau sudah kusampaikan secara langsung, aku ingin berterimakasih pada orang-orang baik yang kutemui di tempat ini.
Bapak leo, pimpinan yang super humble juga penyabar dengan segala tingkah eror staffnya (read: anggur), terimakasih karena menjadi sosok yang gentle, menghormati dan menyayangi kami layaknya anak sendiri tanpa berlebih. Noken yang bapak belikan untukku di Kampung Err akan menjadi pengingat bahwa aku pernah merasa bahagia setulus itu.
Untuk Anggur yang sangat amat menyebalkan, tapi dia satu-satunya kawan buku dan sefrekuensi tentang musik jadi, aku maafkan segala tingkah rewelnya.
Bude Santi di hotel Sang Surya, yang selalu siap dengan roti panas baru dipanggang super lembut ketika sarapan. Walau bude banyak omongnya, aku suka mendengarkan. Ballroom memang tempat segala macam gosip bermuara.
Dan untuk tim Asmat tersayangku, tentu saja, titin dan kak nixon, kalian adalah dua orang hebat yang entah hal baik macam apa yang kulakukan sampai dipertemukan dengan kalian. Semoga hubungan baik kita tetap terjaga, sampai nanti, sampai nanti. Aku sayang kalian, tetap sehat, tetap kuat.
Hari-hariku bersinar. Hatiku terasa hangat, seperti selimut tebal yang kutarik sampai batas hidungku ketika hujan sore hari.
Apa semua akan tetap sama?
Ketika aku kembali ke kotaku, semua akan kembali seperti semula, ya kan?
Asmat dan warganya yang hidup di kota apung, motor listrik yang berdengung pelan nyaris tak bersuara, jembatan yang berderu tanpa henti seperti bunyi tamborin, suhu lembab yang membuat jemuran kami tak lekas mengering bahkan hingga 2 hari lamanya..
Semua akan tersimpan cantik di benakku sampai aku menginjakkan kaki di tanah ini lagi.
Semoga masih diberi kesempatan,
Semoga masih panjang umurku,
Dan perjumpaan yang dinanti kan datang.
-num
Asmat emang ngangenin. Sa tau karena ke Asmat lewat timika. Timika suka hujan. Timika suka bikin kangen. Karena Asmat dekat dengan Timika maka Asmat juga ngangenin. Kesimpulannya i love you i miss you
ReplyDeleteIYAA EMANG NGANGENIN PARAH :(((( TIMIKA JUGA VIBESNYA LIKE HOME IDK WHYYY, SARANGHAEEE, BOGOSHIPEOO♡♡♡♡♡
DeleteUntuk pertama kalinya setelah 4 tahun berteman dengan anak ini sa baca blognya dan kok sa sedih sih di salah satu part dalam tulisan ini🥲 walaupun sa tidak ikut ke sana bahkan sama skli tidak tau tentang apa yg kam lakukan di sana
ReplyDeleteAaakk bunda ella 😭 rasanya pengen cerita dari a - z semua yg tong lalui :((( miss youu ella, semoga kita cepat ngumpul lagiii ♡♡
Delete