3.12.2022
Sabtu pagi, setelah rencana dadakan yang disepakati hanya beberapa jam sebelum berganti hari, aku dan rekan-rekanku melakukan pendakian ke gunung Cyclop (Robongholo).
Jam tangan menunjukkan pukul 9 lewat 20 menit ketika aku selesai menyeruput teh hangat sambil menunggu teman-teman dan pemandu tiba. Setelah berkumpul dan menitipkan kendaraan di kantor WWF, aku, Titin, Kak Ros, Kak Iim, Kak Brian dan Om Amar bergegas ke pendakian. Seakan merestui, semesta menghadiahkan cuaca adem ayem. Cerah, namun tak terik.
Kurang lebih 15 menit berjalan menanjak, meninggalkan rumah penduduk di belakang, memasuki hutan lebih dalam, lebih intens. Jalan bercabang yang kutemui adalah pemberhentian pertama, pada titik ini aku masih baik-baik saja, stabil, bernafas dengan leluasa. Menunggu Titin, Kak Ros dan Om Amar menyusul, aku menikmati suara jangkrik sahut-sahutan dari sudut hutan yang tak tersentuh. Ada banyak jenis pakis disini, palem yang menjulang tinggi, pohon lingua, beberapa jati juga masih terlihat. Selagi aku sibuk dengan pertanyaan dalam kepala tentang seburuk apa hutan ini terimbas banjir bandang 2019 lalu, teman-temanku sudah menyusul, dan kembali kami lanjutkan perjalanan.
Semakin menanjak, 10 menit berlalu dan kami tiba di pemberhentian kedua. Di titik ini, kakiku mulai kebas, semakin ingin berhenti melangkah. Kak Ros, yang sudah tak sanggup mendaki, memutuskan untuk turun gunung, dan tersisa kami berlima, melanjutkan perjalanan dengan sedikit bicara, lebih banyak menghayati seluk beluk hutan.
Kami tak mendaki terlalu jauh, hanya mencapai 400 meter di atas permukaan laut. Sejujurnya April lalu aku pernah mendaki sampai ketinggian 2000 mdpl, dengan elevasi 95⁰, dalam keadaan berpuasa pula. Bukan ingin menyombongkan diri, hanya saja aku sedikit terkejut dengan stamina tubuhku saat ini yang lebih mudah letih dibanding waktu itu. Mungkin karena lama tidak mendaki, jantungku meronta, paru-paru kembang kempis berebut oksigen yang terasa kian menipis. Persis di pemberhentian ketiga, lututku sudah cukup lunglai, akhirnya kami duduk sejenak, menikmati pemandangan kota Sentani dari ketinggian.
Jalanan berlumut, pohon tumbang termakan rayap menjadi pijakan yang menghantarkan dari satu medan curam ke kali berbatu, pertanda makin dekat dengan air terjun pertama, tujuan kaki melangkah di pagi itu.
Nafasku tercekat. Momen ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu terasa sangat magis. Aku seperti tersihir. Familiar dan asing di saat yang bersamaan. Apa aku berhalusinasi? Mungkin aku membaca terlalu banyak buku fantasi, tapi bahkan tanpa memutar musik, Clair de Lune terus terdengar di benakku. Mungkin aku tidak berhalusinasi. Mungkin itu memang cara kepalaku meromantisasi hal seperti ini. Tapi halusinasi atau bukan, itu tak lagi penting, aku ingin segera merasakan dinginnya air menyentuh wajah.
Setelah sibuk mendokumetasikan indahnya pemandangan kala itu, seperti berada dalam mimpi, aku termangu lagi. Ini satu dari beberapa momen magis yang tidak bisa kujelaskan dengan mudah. . Menikmati sensasi dingin menjalari tubuhku yang perlahan basah kuyup. Kami bercanda ria, menikmati momen bersama, bercerita di bawah kucuran air yang mengalir deras, lalu terdiam, hanyut dalam suara alam.
Kuhabiskan waktu cukup lama di bawah air terjun, memikirkan banyak hal yang telah kulalui di sepanjang tahun ini, menemukan jawaban dari pertanyaan yang begitu lama terbengkalai di sudut memoriku. Beberapa masih tak terjawab, dan aku rasa, tetap tak terjawab juga adalah jawaban.
Itu saat yang tepat untuk membenamkan kepala dalam dinginnya air, meredam semua riuh yang terus memaksa tuk didengar. 30 detik adalah rekor terlamaku menahan nafas dibawah air, dan dalam waktu sesingkat itu, sekelebat kenangan dari tahun lalu kembali hadir dari kebasnya wajah oleh suhu rendah. Kenangan ketika menyelam di kedalaman 15 meter, sekelilingku biru menenangkan, di bawah kaki berbalut fin, taman koral membentang luas, sejuk, tenang, menghanyutkan. Dari rindu yang terbenam begitu lama, hatiku damai memikirkan laut. Faktanya, kala menyelam tahun lalu, aku punya begitu banyak tekanan di pundak hingga tak kuasa berlama-lama menikmati indahnya bawah laut Depapre. Mungkin itu artinya aku harus berkunjung lagi, mengobati rasa bersalahku yang menganggap lalu momen berharga itu.
Kembali ke permukaan, mengambil nafas. Angin berhembus menerbangkan dedaunan tua yang gugur di tengah lembah. Lama sekali di udara, lalu jatuh dan menimpa apapun yang ada di bawah. Apa mereka sedang coba sampaikan pesan? Kadang-kadang aku hanya ingin menjadi angin. Hilir mudik kemanapun, tak terlihat namun kehadirannya bisa dirasa.
Aku tahu hatiku bersatu padu dengan alam. Ini ketenangan yang ingin kumiliki sejak begitu lama. Aku ingin momen itu berjalan selambat mungkin. Aku akan mendaki lebih tinggi lagi. Merasakan intimasi nyanyian sungai dan gemerisik dedaunan.
Sampai saat itu tiba, aku akan berjuang sebaik mungkin. Untuk mimpi-mimpiku. Untuk mimpi-mimpiku.
-num
Catatan pendaki, alur yang menyenangkan dan penutup yang mewakili isi tulisan. Semangat menulis Num, trimakasih sudah berbagi. 😇😇😇
ReplyDeleteTerimakasih sudah menyempatkan waktu utk membaca ♡ Semangaat menulis pegiat literasi di tanah Papua ♡ God Bless You :))))))
Delete