23 Desember 2022
Laut, aku disini lagi.
Sudah berlalu beberapa minggu sejak terakhir kali aku berjumpa denganmu. Banyak yang terjadi dan aku terus merindukanmu, mencari jalan tengah untuk obati rinduku pada ombakmu yang syahdu.
Sekarang pukul 17:37, dinginnya semakin menusuk, tapi sekalipun aku tidak toleran dengan udara dingin, aku pantang pulang sebelum usai bercerita.
Housemateku kembali ke kampung halamannya karena libur natal, aku jadi sendirian di rumah. Rasanya lengang, sepi..
Tapi aku suka ketenangan ini. Serasa menjadi tokoh utama dalam setiap bait lagu Slowdown milik Laufey.
Masak hanya untuk seporsi,
pulang ke rumah dan disambut kucing kesayangan,
nonton serial favorit hingga larut malam,
melepas penat dengan akrilik dan kuas,
menuntaskan buku-buku di sudut lemari yang lama tak tersentuh,
magnolia semakin akrab dengan jemariku.
Ini musim liburan. Ya, ini benar-benar liburan.
Selepas lulus aku terus sibuk hingga sedikit sekali kuhabiskan waktu untuk melukis.
Dulu aku suka membunuh sedih dan hampa dengan melukis di kamarku, berjam-jam, tanpa siapapun, tak perlu mendengar ocehan orang lain. Melukis hingga jam 3 pagi membuatku tenang, walau lelah.
Ini jenis liburan yang tidak membuatku depresi. Tahu perasaan itu? ketika selalu disibukkan dengan banyak hal, lalu tiba saatnya kau menuntaskan segalanya dan tidak mengerjakan apapun lagi.
Ada kalanya, ketika tenggelam terlalu lama dalam segala kesibukan, kita jadi kebingungan harus berbuat apa saat masa sibuk itu berlalu. Tapi kali ini, aku merasa lega. rehat sejenak, merenggangkan tubuh, menghitung ombak yang datang dan pergi tanpa mengkhawatirkan apapun. Sederhana, cukup.
Dan jika saatnya tiba, aku akan kembali mengejar mimpi-mimpiku, namun saat ini, aku hanya ingin menikmati hamparan biru di pelupuk mata.
Hari semakin gelap, sayang sekali, sudah saatnya pamit.
Aku akan rindu asinnya udaramu.
Hari semakin gelap, sayang sekali, sudah saatnya pamit.
Aku akan rindu asinnya udaramu.
-num
Comments
Post a Comment