14.08.2023
Berminggu-minggu jauh dari laut,
aku merasa hampa. Berdiam dan mengapung tersapu ombak yang asin, kurindu dan
kudamba rasa itu. Begitu banyak yang perlu kukerjakan, larut dalam kesibukan
hingga tak kunjung kutemukan waktu tuk bermesraan dengan hangatnya mentari sore
di tepi laut. aku menikmati kesibukan ini, hanya kadang nelangsa karena tak jumpa dengan laut.
Dan malam ini, walau badan letih,
hatiku terlalu gundah untuk langsung pulang ke rumah. Aku hanya ingin meratap
ke kejauhan di tepi pantai. Jadi disinilah aku. Pukul 11 malam, menikmati angin
sepoi-sepoi dan gemuruh ombak kota pelabuhan. Menulis lagi dan lagi, menumpahkan
cerita yang tak sanggup dituturkan mulut ini.
Pagi tadi adalah sidang pertama
perceraian orang tuaku. Setelah menikah lebih dari 20 tahun, mereka yang dulu
begitu saling cinta, mengucapkan kata pisah pada satu sama lain, tanpa bertatap
muka. Seakan segala yang terjadi selama puluhan tahun diantara mereka hanya
secarik kain usang yang tak lagi punya nilai dan berakhir di tempat sampah. Kau
mungkin tahu apa yang ada di isi kepalaku. Bahkan yang pernah saling tahu luar
dalam selama puluhan tahun juga pada akhirnya berpisah. Apa lagi yang bisa kupercaya?
Setelah semua ini, menurutmu aku masih percaya dengan cinta manusia?
Meski sedih dan konyol, tapi aku masih ingin percaya. Aku percaya bahwa cinta bukan hal yang konstan, namun komitmen, komunikasi baik dalam hubungan yang membuat bertahan walau di ambang runtuh. Aku percaya pada emosi satu itu, emosi yang menimbulkan banyak rasa bahagia, juga.. petaka.
Yang tak kupercayai adalah mulut manis manusia. Yang sulit kupercayai adalah manusia dengan watak dan wajah yang berubah-ubah, yang kadang damai, kadang
kalut.
Mama tersenyum begitu cerah hari
ini. Seakan segala beban yang menahan pundaknya selama 4 tahun ini terangkat
secara ajaib. Atau mungkin, itulah yang ia ingin kami percayai. Aku
bertanya-tanya apakah ia sedang mengenakan topeng untuk menutupi kesedihannya.
Aku tak mampu menatap matanya langsung. Ketika mama keluar dari ruang sidang,
aku terpaku untuk beberapa saat, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Kukira
aku bakal terharu atau tersenyum lebar. Mungkin terlalu banyak hal yang kupikirkan dan
berbagai emosi menghantamku dalam waktu singkat, aku jadi bingung harus berbuat
apa.
Aku teringat lagi langit sore tadi
ketika perjalanan pulang dari kampung Abar. Sendu dan teduh. Seakan tahu isi hati
yang masih campur aduk. Mungkin semesta memang mendengar apa yang tak tertuang
dalam bentuk kata dari bibirku.
Selangkah lagi untuk dengar
suara palu diketuk dan kebebasan diraih.
Mungkin semesta ingin merayakan
lahirnya kembali seorang insan yang t'lah bertahun terpasung dalam hubungan semu.
Mungkin semesta tak sabar menanti
perjalanan baru yang kan direngkuh oleh jiwa yang terbebas dari masa lalu
pahit.
akan kurayakan.
akan kurayakan.
-num.
Comments
Post a Comment