Skip to main content

dini hari

 


    How beautiful it is to be surrounded by nature and noticing every little things the universe offers in the deepest and bluest hour of the day? 


Betaf, Sarmi.

Sejak sering melakukan field trip, aku semakin suka bangun di pagi hari, ketika gelapnya malam bertemu pagi, mengantarkan biru tenang ke alam semesta. Terasa begitu sunyi, syahdu kala dinginnya udara berpadu dengan sepi dunia. Aku nikmati waktu bergulir tanpa beban, menyaksikan dunia mengawali hari, bunyi gemerisik dedaunan, debur ombak merdu, dan angin yang menggoyangkan tendaku, jangkrik sahut-sahutan dengan ayam. Harmoni yang tak tertandingi dengan melodi manapun.

Lalu manusia, satu persatu bangun, memulai harinya. Denting sendok dari dapur warga, ada yang sedang menyapu halaman, anjing kampung mulai mondar mandir buang hajat untuk menandai teritorinya. Selalu terasa hangat di hati ketika menyaksikan kehidupan dimulai. Dalam sunyi, segala romantisme subuh menghampiriku. Pada akhirnya kita semua insan yang sama. Menempati dunia yang luas walau kadang terasa sekecil gengaman tangan. Kita insan yang bermimpi, yang menangis dan menari tuk rayakan perpisahan, yang lelah dan hilang arah.

Seorang ibu yang temukan kembali semangat ketika melihat anaknya mengenakan seragam sekolah. Seorang ayah yang merenggangkan tubuh, siap untuk menjadi tulang punggung keluarga di hari yang baru. Seorang anak yang ingin sekolah cepat berlalu agar bisa kembali bermain dan berleha-leha. Mungkin stereotipikal kedengarannya, tapi aku suka membayangkan keluarga yang fungsional di pagi hari. Nyaman dan hangat. Walau aku tahu hidup jauh lebih kompleks dari itu. Punya banyak lika-liku dan kemungkinan. Kadang tersandung lalu lanjut lagi berjalan. Kadang begitu mulus hingga kita kerap meragukan, bertanya-tanya apa mungkin selancar ini. Tapi pada akhirnya, kita semua insan yang sama, yang lelah dan hilang arah. Yang tumbuh berkali-kali walau dipatahkan oleh realita. 

Dan seperti itu, aku pun memulai hari.

-num

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

ground zero.

  And now it’s over between me and the one i called ocean once,  I should’ve known that we’ll never last.  But how would I know? I was in love. 1 year and a half was short, but the love we shared was real at least for some moments. Even though it didn't last long,  Even though the fussin’ and cursin’ never stopped, we were real. There were times we grieved in silence and comforted  each other in the middle of chaos. There were times we held onto each other,  relied on each other and watched everything else fall apart,  and then one day, it just stopped. Only broken promises left,  filling this empty room along with lies that slowly unfold. I know I could never forget the pain in my rage full cry that day  when all my nightmares hunt me down till I realize,  it was never a nightmare.  It's a reality that I live in.  I just hate the fact that you made all my fears come true. Though I wish to never feel such pain again, I am grate...

castaway

And just like that, 2022 ended right when rain comforts you the most and the touch of sun rays feel strange. Sorely, serenely, delightfully. In a blink of an eye, a lot changes. Feelings that once familiar, fade and becoming distant. Some stories end, some into the new beginnings. New books, new hair-cut, new paints, new year. Still, there are things that stay the same no matter how many years have passed. Is it because I’m getting older, suddenly living alone feel quite romantic to me. Pile of dishes, the smell of washed laundry, wet napkins, food that rots faster than ever, purring cats on rainy days, run out spices.. I tend to forget the beauty in small things as life gets harder. I’ve come to realization that being a grown woman, fighting each day to fulfill my dreams is alluring, yet frightening. Living alone means that I make my own rules. And soon, my mother’s scolding is no longer the reason for me to clean up. But when the petal of roses on glass vase begin to fall off, ...

Shiwai Nana

  30.07.2023 SOQ ->DJJ, 8121 mdpl Aku pergi. Tiba saatnya aku meninggalkan tempat ini lagi. Kota yang akan selalu jadi istimewa di sudut hati terdalam. Walau kali ini aku tak sampai ke Womom, kampung kesayanganku, tapi rindu dan haus akan asinnya pantai Tambrauw sedikit terobati ketika kuhirup lagi udara di bukit Malakarta. Dari kejauhan, lautmu terlihat begitu teduh. Apa kau masih ingat hari cerah ketika tubuhku dibasuh hangat ombakmu kala itu? Aku berjelajah ke banyak tempat, menyusuri hutan demi hutan, sungai demi sungai, menikmati waktu bergulir tuk temukan apa arti ruang kehidupan. Berada begitu dekat dengan alam selama berhari-hari membuat jiwaku serasa terbasuh air sejuk. Rantai yang membelenggu sekian tahun, mulai luruh. Hidup memang punya segudang kejutan. Berliuk-liuk seperti Sungai Auk. Aku tahu aku suka berpetualang, namun tak terpikir olehku akan sampai di tempat yang disucikan oleh masyarakat adat.                ...