Betaf, Sarmi.
Sejak sering melakukan field
trip, aku semakin suka bangun di pagi hari, ketika gelapnya malam bertemu pagi,
mengantarkan biru tenang ke alam semesta. Terasa begitu sunyi, syahdu kala dinginnya udara berpadu dengan sepi dunia. Aku nikmati waktu bergulir
tanpa beban, menyaksikan dunia mengawali hari, bunyi gemerisik dedaunan, debur
ombak merdu, dan angin yang menggoyangkan tendaku, jangkrik sahut-sahutan
dengan ayam. Harmoni yang tak tertandingi dengan melodi manapun.
Lalu manusia, satu persatu bangun, memulai harinya. Denting sendok dari dapur warga, ada yang sedang menyapu halaman, anjing kampung mulai mondar mandir buang hajat untuk menandai teritorinya. Selalu terasa hangat di hati ketika menyaksikan kehidupan dimulai. Dalam sunyi, segala romantisme subuh menghampiriku. Pada akhirnya kita semua insan yang sama. Menempati dunia yang luas walau kadang terasa sekecil gengaman tangan. Kita insan yang bermimpi, yang menangis dan menari tuk rayakan perpisahan, yang lelah dan hilang arah.
Seorang ibu yang temukan kembali semangat ketika melihat anaknya mengenakan seragam sekolah. Seorang ayah yang merenggangkan tubuh, siap untuk menjadi tulang punggung keluarga di hari yang baru. Seorang anak yang ingin sekolah cepat berlalu agar bisa kembali bermain dan berleha-leha. Mungkin stereotipikal kedengarannya, tapi aku suka membayangkan keluarga yang fungsional di pagi hari. Nyaman dan hangat. Walau aku tahu hidup jauh lebih kompleks dari itu. Punya banyak lika-liku dan kemungkinan. Kadang tersandung lalu lanjut lagi berjalan. Kadang begitu mulus hingga kita kerap meragukan, bertanya-tanya apa mungkin selancar ini. Tapi pada akhirnya, kita semua insan yang sama, yang lelah dan hilang arah. Yang tumbuh berkali-kali walau dipatahkan oleh realita.
Dan seperti itu, aku pun memulai
hari.
-num

Idolaaa 🌻
ReplyDelete👏👏❤❤
ReplyDelete👏🏽👏🏽
ReplyDelete