Ayappo, Sentani. Tak seperti malam saat kami tiba, juga sepanjang hari ini yang terus diiringi hujan deras, sore ini walau langit masih berawan, cuacanya mulai teduh. Aku lebih suka hujan. Menurutku aku lebih cocok dengan cuaca mendung dan hujan. Mungkin karena kepribadianku yang melankolis. Walau begitu, kami butuh cuaca cerah untuk mendapatkan hasil praktikum yang maksimal. Tubuhku yang masih dalam balutan pakaian basah kuyup, kedinginan dengan udara menjelang malam ditempat ini. Disini syahdu. Jauh dari perkotaan, minim polusi udara. Airnya teduh, walau tak ada suara ombak, aku tetap suka. Tak ada senja sore ini. Namun birunya langit mengobati rasa dinginku yang kian menjadi-jadi. Aku seperti tersihir dengan pemandangan ini. Langit hampir mendekati warna prussian blue, yang membuatku, tentu saja takjub. Hari makin gelap, pijaran lampu memantulkan cahaya diatas air mengingatkanku pada lukisan minyak oleh artis ternama dari 1 abad lalu. Mayfly mulai bet...
that typical melancholic weirdo you often see spending her time alone at the corner of a cozy cafe, with a glass of ice latte and books or laptop on table.